KETERLIBATAN PENUTUR ASLI DI DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR BAHASA INGGRIS UNTUK MENANAMKAN NILAI-NILAI WAWASAN KEBANGSAAN PADA SISWA KELAS IXD SMP NEGERI 17 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012 OLEH SATRIYO IMAM SANTOSO
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tak bisa disangkal lagi bahwa bahasa Inggris mempunyai pengaruh yang makin dominan dan sepertinya tidak bisa dibendung lagi di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Menurut Quirk dkk dalam Nurkamto (2003)
bahasa inggris tidak hanya memiliki sistem yang paling baik diantara
bahasa-bahasa di dunia, melainkan juga memiliki faktor-faktor pemaksa
yang menempatkannya pada posisi sekarang.
Faktor-faktor pemaksa tersebut adalah jumlah penutur, tingkat
penyebaran geografis, fungsi yang diemban dan peran politis dan ekonomis
penutur asli bahasa itu.
Sehingga dewasa ini penduduk
di berbagai negara memakai bahasa Inggris sebagai alat komunikasi dalam
berbagai pertemuan penting pada tingkat internasional (Richards and
Rodgers, 1986:1). Dalam bidang pendidikan, bahasa Inggris mempunyai
andil besar karena hampir semua buku teks dalam berbagai disiplin ilmu
ditulis dalam bahasa Inggris, yakni dari jenjang pendidikan dasar sampai
perguruan tinggi. Begitu pula tidak bisa dipungkiri peran Bahasa Inggris dalam alih tehnologi dari negera maju ke negara berkembang.
Kenyataan diatas mendorong bangsa Indonesia mempelajari bahasa Inggris. Bahasa Inggris secara resmi diajarkan sebagai bahasa asing di sekolah-sekolah Indonesia seiring dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1967. Sejak
saat itu, perubahan menteri, kurikulum, keadaan politik, ekonomi dan
perkembangan ilmu pendidikan, terus mewarnai perkembangan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia.
Dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Bahasa Inggris dipandang
sebagai alat berkomunikasi bukan seperangkat aturan tata bahasa,
sehingga nantinya para siswa
diharapkan mampu menggunakannya dalam masyarakat pengguna bahasa
tersebut. Sebagaimana konsep kompetensi yang dikemukakan oleh Celce
Murcia bahwa tujuan pembelajaran bahasa adalah kompetensi wacana. Artinya, jika seseorang berkomunikasi
baik secara lisan ataupun tertulis dia telah terlibat dalam sebuah
wacana. Yang dimaksud dengan wacana adalah sebuah pristiwa komunikasi
yang dipengaruhi oleh register ( topik), tenor atau hubungan interpersonal orang yang terlibat dalam komunikasi dan mode mengacu kepada jalur komunikasi atau channel yang kita gunakan yakni lisan dan tulis.
Oleh
karena itu, dalam pengajaran bahasa Inggris di jenjang pendidikan
menengah seorang guru mempunyai kesempatan untuk memilih dan memilah
materi pengajaran bahasa Inggris dari negara pemakainya seperti
Amerikat, Inggris Raya, ataupun Australia. Guru tidak lagi harus mengambil semua budaya dan gaya hidup milik penutur asli bahasa Inggris tanpa menyesuaikan dengan kondisi budaya bangsa Indonesia. Sehingga fungsi bahasa kembali sebagai alat komunikasi bukan media kolonialisme budaya dan linguistik ( Anita Lie, 2002: 188) .
Sebaliknya penulis menemukan sebuah gagasan yangmana bahasa Inggris bisa dijadikan sebagai alat pengembangan budaya dan bahkan untuk menanamkan nilai-nilai wawasan kebangsaan dalam pergaulan internasional. Sebagaimana Kirkpatrick (2001) menyarankan kurikulum bahasa
Inggris didesain lebih ramah dengan memasukkan budaya-budaya setempat
seperti : cerita-cerita rakyat asli Indonesia, nama-nama tokoh pahlawan
nasional, tempat-tempat bersejarah di berbagai wilayah Indonesia dan
berbagai jenis makanan tradisional dari seluruh Nusantara.
Selanjutnya dalam pengajaran dan
pembelajaran bahasa Inggris mencakup ketrampilan menyimak (listening),
berbicara (speaking) membaca (reading), dan menulis (writing).
Ketrampilan berbicara adalah salah satu kompetensi bahasa yang perlu
ditingkatkan di SMP Negeri 17 Surakarta. Menurut Suyanto (2008) siswa
siswa yang belajar bahasa Inggris di Indonesia perlu dilatih berbicara
dalam bahasa ini. Mereka harus berbicara dan berinteraksi dalam bahasa
Inggris dengan sesama teman dan dengan guru bahasanya. Satu-satunya cara
yang paling efektif adalah dengan menggunakan bahasa itu sendiri.
Salah
satu permasalahan besar dalam pengajaran bahasa inggris yang dihadapi
setiap guru adalah bagaimana mengembangkan motivasi dan ketrampilan
berbicara siswa sambil menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Permasalahan
tersebut dapat diatasi salah satunya dengan mengundang native speaker (
penutur asli) ke dalam kelas bahasa. Para penutur asli dalam kelas
bahasa dapat dijadikan mitra belajar dan juga motivator siswa dalam mengungkapkan ide-ide yang
berkenaan dengan budaya maupun nilai-nilai kebangsaan Indonesia.
Mereka kita undang kedalam kelas sebagai guest speaker. Kedatangan dan keterlibatan mereka dalam proses belajar mengajar (PBM) bahasa Inggris di
dalam kelas merupakan hal yang sangat langka bagi siswa SMP di
Indonesia. Kesempatan ini merupakan pengalaman berharga bagi mereka
karena belum tentu bisa menemukan hal yang sama di jenjang pendidikan
selanjutnya. Disamping itu kemauan dan kemampuan siswa berkomunkasi
dengan penutur asli bahasa Inggris membuat
lebih percaya diri dalam belajar bahasa dan menimbulkan kebanggaan
tersendiri terhadap sekolahnya. Dalam kesempatan itu para siswa
diharapkan bercerita dengan cara menggambarkan atau mendeskripsikan peninggalan sejarah, jenis makanan tradisional ataupun hasil seni semacam wayang kulit dan batik dengan menggunakan teks
deskriptif dan report sederhana. Sementara para penutur asli
mendengarkan apa yang siswa ceritakan yangmana sebenarnya mereka sedang
belajar mengenai kebudayaan Indonesia melalui bahasanya sendiri. Dari uraian singkat di atas, muncul beberapa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
- Mengapa seorang penutur asli (native speaker ) diperlukan dalam pembelajaran bahasa asing dalam menanamkan nilai nilai kebangsaan dan budaya Indonesia? Apa manfaat dari kehadiran penutur asli (native speaker) di dalam kelas? Adakah kekurangan yang dimiliki oleh native speaker?
- Bagaimana cara memaksimalkan kehadiran native speaker tersebut, agar dapat meningkatkan ketrampilan berbahasa sambil menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada siswa ?
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Media Pembelajaran
- Pengertian
Kata media berasal dari bahasa latin, merupakan bentuk jamak dari kata medium
adalah sesuatu yang terletak di tengah (antara dua pihak atau dua
kutub) atau suatu alat. Dalam Webster dictioanary 1960 media atau medium
adalah segala sesuatu yagn terletak di tengah dalam letak jejang atau
apa saja yang digunakan sebagai perantara atau penghubung dua hal.
Sementara itu Romiszowski dalam Suyanto 2008 menyebutkan bahwa media merupakan carriers of the messages,
yaitu alat untuk menyampaikan pesan guru kepada siswa. Dalam kegiatan
pembelajaran media dapat membantu guru dalam menyampaikan bahan ajar
supaya lebih jelas dan mudah dipahami siswa, kberarti ada hubungan
antara konsep abstract dan concrete.
Basyiruddin dan Asnawir menyatakan hal yagn sama dengan Romiszowski,
yaitu bahwa media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan
dapat merangnsa pikiran,m perasan dan kemauan siswa sehingga dapat
menorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media secara
kreatif akan memungkinkan siswa untuk belajar pada dirinya. Penggunaan
media secara kreatif akan memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik
dan dapat meningatkan performa mereka sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Dari beberapa pernyataan tersebut dapat dipahami betapa
pentingnya penggunaan media untuk pembelajaran bahasa asing, khususnya
bahasa inggris.
- Manfaat Media Pembelajaran
Media
merupakan alat bantu yang diperlukan untuk pembelajaran bahasa inggris
terutama untuk anak-anak. Media dapat dimanfaatkan antara lain untuk :
1. Membantu menyederhanakan proses pembelajaran bahasa dan menyempurnaakannya
2. mengurangi penggunaan bahasa ibu atau bahasa pertama
3. Membangkitkan motivasi atau minat belajar siswa
4. Menjelaskan konsep baru agar siswa dapat memahami tanpa kesulitan dan salah pengertian
5. Menyamakana persepsi, apalagi kalau konsep baru tersebut mempunyai arti lebih dari satu
6. Meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa inggris
7. Membuat proses belajar lebih menarik dan interaktif
(Suyanto, 2008)
- Pemilihan media pembelajaran
Media
harus dipilih atau diseleksi dengan tepat sebelum digunakan dalam
kegiatan pembelajaran. Secara umum media dikelompokkan menjadi tiga
jenis, yuaitu (1) Visual media atau media pandang, (2) audio media atau
media dengar, dan (3) audio visual media atau media dengar dan pandang.
Sehubungan
dengan pemilihan dan penggunaan media dapat menggunakan beberapa
pertanyaan yang dapat dipakai untuk bahan pertimbangan, yaitu sebagai
berikut :
1. Apakah media tersebut dapat dipersiapkan dengan mudah ?
2. Apakah media tersebut mudah dioperasikan atau dipakai di kelas ?
3. Apakah Media tersebut cukup menarik bagi siswa ?
4. Apakah bahasa yang dipakai dengan media itu cukup bermakna dan auntentik ?
5. Apakah kegiatan dengan media tersebut dapat menambah atau mengembangkan kemampuan berbahasa siswa ?
6. Apakah media tersebut mudah didapat ?
(Andrew Wright, 1989)
- Penutur Asli (native speaker) sebagai media pembelajaran
Dalam belajar bahasa Inggris sering
ditemukan istilah native speaker atau penutur asli. Adapun menurut
Medges (1999) bahwa mereka dicirikan dengan : lahir di negara yang
berbahasa Inggris , telah belajar bahasa Inggris selama masa kanak-kanak
di lingkungan berbahasa Inggris, berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa pertama, memiliki kemampuan seperti penutur asli bahasa Inggris, mampu bertutur spontan dan lancar dalam bahasa Inggris.
a. Kelebihan Penutur Asli
Ada beberapa keuntungan saat siswa belajar dengan penutur bahasa Inggris antara lain : mampu membangkitkan minat dan
menarik perhatian siswa disamping mereka antara lain: (1) membantu para
pembelajar memahami pemikiran dan perasaan masyarakat pengguna bahasa
Inggris, (2) memiliki keotentikan dalam berbahasa dan berbudaya Inggris,
(3) mempunyai unsur keaslian dan kedekatan dengan bahasa Inggris, (4) berekspresi
dan berbicara sesuai dengan bahasa dan budaya aslinya, (5) memiliki
rasa bahasa dan wawasan budaya bahasa Inggris, (6) menguasai dan
menggunakan bahasa yang nyata, (7) menjadi informan bahasa Inggris, (8) bisa menjadi trainer bagi guru non-native.
Berdasarkan
pernyataan-pernyataan diatas penulis memilih media penutur asli bahasa
Inggris dari Amerika Serikat yang sedang berkunjung ke Surakarta dalam
rangka belajar atau sebagai wisatawan. Mereka biasanya sangat antusias
untuk mengenal berbagai ragam budaya nasional ataupun Jawa. Rata-rata
masa kunjungan mereka berkisar anatara 1 bulan sama 6 bulan
Jadi,
penutur asli bahasa Inggris bisa membantu siswa belajar bahasa. Tujuan
utama pnegajaran bahasa adalah menggunakan bahasa untuk berkomunikasi
dalam berbagai materi yang akan disampaikan oleh para siswa di depan
para penutur aslii. Oleh karena citu guru harus mampu memilihkan sejumah materi lokal yang mengandung nilai-nilai kebangsaan di kelas khususnya ketika melibatkan mereka.
b. Pemilihan Materi
Sebelum
materi bacaan digunakan di kelas, guru harus mempertimbangkannya
terlebih dahulu sebaik mungkin. Menurut Kirkpatrick (2001) menyarankan
memilih budaya budaya setempat sehingga lebih relevan dan otentik dengan
pengalaman pembelajara walaupun mungkin tidak seperti norma norma
bahasa Inggris yang dipakai oleh penutur asli( Anita Lie :2002).
Berdasarkan kriteria di atas, penulis memilih beberapa materi sebagai
berikut :
Batik
The word batik comes from the term titik, a dot, point or drop, referring to the wax dots that make up the pattern. There are three kinds of Batik. Batik tulis,
meaning writing, is waxed completely by hand using the canting tool.
This is the most expensive batik due to the long process and high level
of skill needed. Batik cap (chop) is waxed with the copper
stamp called a cap. This also takes skill to create an even pattern on
the cloth, but it's much faster to make than batik tulis. Batik cap is
the least expensive of hand-processed batiks. Batik kombinasi
combines both techniques on one cloth. First the main design is waxed
with a cap, then the batiker adds details with the canting. Batik
kombinasi is priced in the mid-range.
Nasi Liwet
Nasi liwet is a traditional rice dish in Indonesia, especially in Solo- Cengtral Java. Rice is one of the most important main food in Indonesia, and it's eaten at most meals. Nasi liwet is made by slowly cooking the rice in coconut
milk. It can be eaten at any time of day, and it is often cooked in the
traditional way over an open fire and served on banana or teakwood
leaves. It is often accompanied by chicken, boiled eggs, or vegetables.
On the Indonesian island of Java, nasi liwet
is a popular traditional dish. Java is the fifth largest island in
Indonesia, but it is the most populated, with about 60 percent of the
country's people residing there. The people consume a typical Indonesian
diet, and meals are often social occasions. Some areas of the
Indonesian islands are able to produce as many as three rice crops per
year.
Rice
is one of the most important staple foods in the Indonesian diet. It is
prepared a variety of different ways and it is eaten with almost every
meal. When they gather for a meal, every person present gets a dish of
rice, then he or she selects more food from an array of side-dishes and
adds to the plate.
Ketoprak
Ketoprak
is the modern popular Javanese dance drama. It takes its stories from
popular folk stories or from Indonesian history. Listen to ketoprak with
gamelan music. You can see the ketoprak in Balekambang Botanical Garden
every Saturday night, beginning at 20.30 pm -23.00 pm.
Wayang Orang
Wayang
Orang Sriwedari is a Javanese traditional performance which is
performed by professional actor/ actress. The performance shows story
based on the story of Mahabarata and Ramayana which bears moral value
and beliefs of local people. With exotic stage setting, audience will
enjoy the unique performance atmosphere, as if we feel in the past time.
Wayang Orang Sriwedari is performed in Wayang Orang Sriwedari Building
at Sriwedari Building at Sriwedari Park Komplex Jl. Slamet Riyadi.
Wayang
Orang Show at Sriwedari Cultural Park at Jl. Slamet Riyadi 275
Surakarta performs episodes from Ramayana epics. This daily performance
starts at 08.15 p.m. and ends at 10.00 p.m. Sunday Closed. Entrance fee
Rp.3000,-
Wayang Kulit
Wayang kulit is the name given to Indonesian shadow puppetry. Wayang means ‘puppet’ - and kulit
means ‘leather’ and ‘flat’. Wayang kulit is therefore, flat leather
puppets. Wayang kulit is distinctive due to its particular character
designs: angular shoulders; long, skinny arms and legs; and extremely
elaborate carvings.
In a shadow puppet play, the puppets are moved behind a cotton or linen screen by a Dalang,
or a "Puppetmaster". The Dalang tells the story, interprets characters
and voices for each character, producing sound effects with speech and
movement. He manipulates all the figures between the lamp and the screen
to bring the shadows to life.
Most
shadow play is based on two epic stories from India - the Mahabarata
and it's sister work, the Ramayana. The Balinese and Javanese have
combined the Hindu stories with Buddhist and Muslim ideas mixed with
their own folklore.
Shadow
play is accompanied by a Gamelan orchestra, an Indonesian orchestra.
Many styles of Gamelan instruments exist throughout Indonesia. Each area
has a slightly different approach to accompaniment, though most share
the same root traditions. Gamelan players respond to the spontaneous
timing and direction of the Dalang. The repertoire typically consists of
an overture, music for travelling, character pieces, and battle music.
The Kasunanan Palace
The Kasunanan Palace of Solo is very well-known by Solo
people. It is among the top landmarks dominating the skyline of
Surakarta. Kasunanan Palace was constructed during the reign of King
Pakubuwono II way back in the year of 1745. Centuries ago, Kasunanan
Palace was the residence of the Javanese king, who was at that time the
sovereign of Central Java. The vast Kasunanan Palace is steeped in
traditional Javanese heritage, and with its ornate architecture is
considered a site of magnificent historical significance. In the
vicinity is the legendary Panggung Songgo Buwono, or the “Tower of the Universe”, an important cultural site truly worth visiting.
Puro Mangkunegaran
Puro
Mangkunegaran was constructed by the order of Mangkunegoro II in the
end of the 19th century, and was completed in 1866. Though having
undergone several restorations throughout the years, Puro Mangkunegaran
still triumphantly flaunts its dazzling original design, a distinctive
Javanese architectural style called joglo.
Using teak wood as its main building material, Puro Mangkunegaran
consists of two main parts: Pendopo and Dalem. At the Pendopo is placed a
set of gamelan known to possess mythical properties, named “Kyai Kanyut
Masem”, played every Wednesday as accompaniment to the traditional
dance rehearsals performed here.
Radya
Pustaka Museum is located on Jalan Slamet Riyadi as part of the
Sriwedari Park. The museum was built by Adipati Sosrodiningrat IV, who
was the Patih (prime minister) during the reign of Kings Pakubuwono IX
and X. In front of the museum stands Ronggowarsito Monument, its
inauguration attended by Ir. Sukarno, the first president of Indonesia.
Radya Pustaka Museum keeps ancient artifacts that are the collections of
Kasunanan Palace, Mangkunegaran Palace, and various other sources.
Pasar Triwindu
Pasar
Triwindu has long been a place where antiques of all kinds are bought
and sold, often in very reasonable and affordable prices. The market is
located nearby Puro Mangkunegaran and opens daily from 9 am to 5 pm.
Pasar Klewer
Situated next to alun-alun lor
(northern town square) of the Kasunanan Palace, Pasar Klewer is without
doubt the largest and most diversified batik market in Java, where one
can find various kinds and styles of batik on sale, from traditional to
modern ones, for a wide range of price (though mostly affordable). Open
daily 10 am to 4 pm.
Pasar Gede
In
ancient times, Pasar Gede was a small market, somehow contrary to its
designation (Gede means “large” in Javanese). Solo’s major market, Pasar
Gede was established at the crossroads close to the governor's office,
which is now called the Central Area of Surakarta. The building was
designed by a renowned Dutch architect, Thomas Karsten, and was
completed in 1930 to be given the name Pasar Hardjanagara Gede. The
market was named “Gede” due to the wide, large roof that covers the
whole building. As time progresses, it is now the biggest public market
in Solo
B. Ketrampilan Berbicara
- Pembelajaran ketrampilan berbicara
Belajar
untuk dapat berbicara lancar dan benar merupakan salah satu tujuan
utama belajar bahasa, terutama bahasa asing termasuk bahasa inggris.
Suyanto (2008) menyebutkan beberapa faktor yang mungkin terjadi sebab
kurang berhasilnya ketrampilan berbicara di Indonesia antara lain
sebagai berikut :
a. Bahasa Inggris tidak dipakai di luar kelas atau di masyarakat karena merupakan bahasa asing.
b. Kurangnya atau hampir tidak ada exposure atau pajanan bahasa Inggris di masyarakat dan lingkungan sekitar kita
c. Pembelajaran
bahasa Inggris di sekolah kurang ditekankan pada ketrampilan berbicara,
tetapi lebih banyak difokuskan pada pengajaran structure dan vocabulary sebagai kosakata lepas
d. Rasa malu dan takut berbuat salah jika praktik berbicara
e. Tidak dirasakan adanya kebutuhan, kecuali bila ada kesempatan pergi ke english speaking country untuk meneruskan pendidikan atau melakukan kunjungan wisata.
Terampil
berbicara berarti dapat berkomunikasi menggunakan pola-pola bahasa
inggris sesuai dengan situasi di mana seseorang perlu mengungkapkan
pikiran, perasaan dan pendapatnya. Paul dalam Suyanto (2008) berpendapat
bahwa anak-anak di Asia punya kesempatan untuk membaca, menulis dan
mendengarkan bahasa inggris baik di kelas atau dirumah, tetapi sebagian
besar mereka tidak punya kesempatan untuk berbicara menggunakan bahasa
inggris di rumah.
Bila
para siswa diarahkan untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa inggris
maka implikasinya guru harus mampu memfasilitasi dan membaut kelas
sedemikain rupa agar mereka termotivasi untuk berbicara. Dengan kata
lain, guru harus terus belajar mengaktifkan kemampuannya dan menjadi
contoh dalam menggunakan bahasa inggris sebanyak mungkin dengan
siswanya.
Kegiatan
berbicara di Sekolah Menengah Pertama sering berupa dialog sederhana
(interpersonal ataupun transaksional) , “yes / no question” setelah itu
baru kemudian dapat dimulai dengan wh question.
Dialog sederhana yang berisi tanya jawab kurang memotivasi siswa untuk
berbicara lebih banyak, karena biasanya jawaban hanya terdiri satu
kalimat. Untuk itu perlu digunakan suatu cara agar siswa bisa bebicara
lebih banyak sehigga ketrampilan berbicara mereka meningkat. Salah
satunya menghafalkan bacaan-bacaan diatas dengan menceritakan ulang dalam bahasa Inggris dalam teks deskriptif maupun teks report.
C. Waktu dan Tempat Pembelajaran
Pembelajaran
dilaksanakan di SMP Negeri 17 Jl Jendral A Yani, Sumber – Surakarta
pada Tahun Ajaran 2011/ 2012, pada bulan Maret hari Kamis tanggal 29
dari jam 07.00 sampai 09.00 WIB. Adapun kelas yang dipilih untuk
menerapkan model pembelajaran ini adalah kelas IX D dengan jumlah siswa
33 yang terdiri dari 9 putra dan 24 putri. Kelas IX adalah kelas
anak-anak pilhan yang memiliki kemampuan lebih di bidang akademis
dibandingkan kelas paralel lainnya (IX A-G).
1. Metode Pembelajaran
Metode
yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah berdialog dan bercerita.
Siswa diminta mempersiapkan diri, dua hari sebelumnya untuk menghafalkan
beberapa materi-materi bacaan di atas kemudian pada hari yang telah
ditentukan mereka mempresentasikan di depan penutur asli Amerika
Serikat. Setelah itu akan mendapatkan beberapa pertanyaan berkenaan
dengan nilai-nilai budaya yang tersirat di dalamnya. Kadang-kadang dalam
pembelajaran juga diselingi menyanyikan lagu-lagu daerah klasik maupun
pop, yaitu : gundul-gundul pacul dan iwak peyek.
Suasana
kelas kelihatan hidup dan antusias. Hal ini bisa dilihat dari beberapa
komentar siswa maupun para penutur asli. Mereka terkesan dan merasa
tidak bosan dalam belajar bahasa Inggris.
2. Mengimplementasikan pembelajaran
Penulis mengimplementasikan kegiatan pengajaran menanamkan nilai penggunaan. Penulis sebagai guru bersama penutur asli dengan menerapkan tehnik sebagai berikut :
a. Warming up (pemanasan)
Guru memberi motivasi kepada siswa dengan melibatkan mereka dalam diskusi dengan topik budaya tertentu
yang dekat dengan sekeliling mereka. Misalnya, guru menanyakan kegiatan
, pengalaman mereka, atau fakta yang familiar dengan yang berkaitan
dengan kebudayaan dan tempat-tempat bersejarah di sekitar Solo.
b. Presentasi
Dalam
tahap ini, guru menjelaskan materi yang akan dipakai dalam pembelajaran
bersama penutur asli. Kemudian mengundang mereka memasuki kelas sambil
meminta mereka untuk memperkenalkan satu demi satu latar belakang dan
kebudayaannya. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertanyaan dari
siswa.
c. Praktek
Guru
akan meminta siswa mempraktekkan semua materi yang sudah mereka peroleh
dari penjelasan guru pada tahap presentasi. Mereka maju ke depan kelas
untuk menceritakan kembali materi yang telah dibaca. Kemudian para
penutur asli tersebut mendengarkan dan menyimak. Setelah itu muncul
beberapa pertanyaan dalam bahasa Inggris sambil memberikan dorongan
motivasi saat siswa berhenti kehabisan kosa kata yang akan diungkapkan.
Dari interaksi ini maka telah terjadi alih informasi berkenaan dengan
budaya pembelajar kepada para penutur asli.
d. Produksi
Pada
tahap ini, siswa diharapkan berani dan mandiri untuk bicara bahasa
Inggris atau semakin percaya diri melatih percakapan dengan wisatawan
asing saat ada kegiatan outing
class atau belajar di luar kelas seperti di museum, kraton atau
mengunjungi tempat-tempat yang ada dalam materi di atas.
3. Refleksi
Guru
bersama para siswa dan penutur asli mendiskusikan tentang proses
pengajaran yang sudah terjadi, untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan
selama tindakan, perubahan yang mungkin terjadi di kelas, dan juga hal
yang harus dilakukan untuk perbaikan. Adapun refleksi yang diperoleh
adalah : menambah motivasi belajar dan bicara bahasa Inggris meningkat,
belajar bahasa Inggris dengan penutur asing lebih menyenangkan, menjadi
media menguji mental untuk berbicara bahasa Inggris di depan orang
banyak, bisa memperkenalkan budaya Jawa atau setempat kepada orang lain,
dan menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan siswa karena bisa mengungkapkan
kebudayaan setempat bahkan bisa mengajari para penutur asli menyanyikan
dua lagu jawa.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. SIMPULAN
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mengundang seorang native speaker, ke dalam kelas dapat menjadi mediator dalam mengembangkan kemampuan berbicara bahasa Inggris disamping menantang wawasan
para siswa–siswa untuk memperkenalkan budaya setempat kepada para
penutur asli tersebut. Dengan syarat materi yang akan disampaikan telah
disesuaikan dengan pengalaman keseharian para siswa. Meskipun kadang
juga menyulitkan
bagi pembelajar awal, terlebih apabila penutur asli tersebut tidak
mengenal bahasa Indonesia, dan para siswa belum mengenal bahasa Inggris
sama sekali.
Kemudian
kehadiran para penutur asli juga mendorong para siswa untuk berani
mencoba mengungkapkan berbagai budaya setempat agar diapresiasi mereka
atau setidaknya dapat mengimbangi pembicaraan para penutur asli yang
selalu akan menjadi wakil kebudayaan negara anglo-saxon.
B. SARAN
Dari paparan diatas penulis menyarankan kepada para guru guru
bahasa Inggris untuk memberikan kesempatan kepada para siswanya untuk
bertemu dan melibatkan mereka di dalam kelas bahasa Inggris dengan
beberapa penutur asli setidaknya satu kali dalam satu semester. Jika
perlu mengajak para siswa untuk diberi tugas berdialog langsung dengan
beberapa wisatawan asing yang sedang berkunjung ke candi, kraton atau
cagar budaya di Indonesia. Hal ini akan semakin mempertebal rasa percaya
diri dalam menggunakan bahasa Inggris dengan orang asing sambil menjadi
agen budaya bangsa dalam pergaulan antar bangsa di era globalisasi
dewasa ini.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2006. KTSP Bahasa Inggris SMP. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar.
Brown, W. James, Et. al. 1964. An Instruction : Material and Method.
London : Mc Graw Hill Book Corp.
Lie, Anita .2003 Linguistik Indonesia. Jakarta: PT. Yayasan Obor Indonesa.
Nurkamto, Joko. 2003 Problema Pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia.
Linguistik Indonesia : Nomor 2 : 288-289.
Pringgawidagda, Suwarna. 2002. Strategi Penguasaan Berbahasa. Yogyakarta:
Adicita Karya
Besar Amerika Serikat